YANG KE-DUA



Setelah sekian detik, kau memasuki ruangan dalam hatiku. Senyummu, garis tawamu, lekuk wajahmu, tingkah lakumu. Semua terekam jelas dalam otakku. Aku tak pernah bosan, untuk terus menatap dan memotret semua aktivitasmu. Karena aku yakin, aku akan membutuhkan semua memori itu jika aku merindukanmu nanti. Aku akan merindukan film imajinasi itu terputar lagi. Semua itu akan menjadi berkas warna dalam spektrum kehidupanku. Yang akan terus membekas, sampai waktu mengusangkanya.
            Sebenarnya, tak ada yang istimewa darimu. Tapi, entah. Aku seperti tersihir oleh tingkahmu yang kurasa unik. Walau hanya aku yang menganggapmu lucu dan aneh.
             Ah. Begitukah rasa kagum itu terjadi. Begitu menyeruak bengis. Aku tidak tahu, sampai kapan rasa kagum ini akan terus terjadi. Sampai esokkah. Bulan depankah. Atau, lebih dari itu.
            Daun daun trembesi itu berjatuhan saat aliran udara menyentuhnya. Berguguran seperti bunga sakura di musim semi. Dan, disana kau berdiri. Aku mengangkat kameraku. Akan ku pastikan, momen itu terabadikan dengan baik, ketika bayanganmu telah sempurna tertangkap oleh diafragma kameraku. Ya. Tepat saat kau mengangkat ibu jarimu, klik. Kameraku berhasil memotretnya. Aku tersenyum lega.
            Hujan perlahan turun. Semua orang di lapangan masih melanjutkan aktivitasnya. Melawan hujan. Kau meminggir. Berbaur bersama teman temanmu. Tapi, dibalik rinai itu, aku masih bisa menatap wajahmu yang datar. Mereka bilang, kamu biasa. Tapi untukku, kamu beda. Meski wajah itu jarang menampakkan senyum, aku tahu sebenarnya kamu adalah sosok yang ramah. Hanya saja, lingkup pergaulanmu terbatas.
            Saat itu, kau menoleh. Seperti merasakan tatapanku yang terus tersorot pada sosokmu. Aku segera mengalihkan pandangan. Mengajak sahabatku bercanda. Dengan begitu, kau takkan tahu siapa yang sedari tadi menguntitmu. Ah. Aku sangat pengecut bukan. Untuk saat ini, biarlah. Ada beberapa orang, yang ditakdirkan hanya kita temui sekali seumur hidup. Aku takut kamu adalah salah satunya. Dan itu berarti, ini adalah pertemuan terakhir kita. Jadi, untuk apa saling mengenal. Walau ku akui, keinginan itu ada.
            Aku tidak tahu, apa ini adalah salah satu alasan tuhan mengirimku kemari. Tempat dimana waktu telah memperkenalkan dengan sosok yang begitu menyita perhatian. Arin. Itukah namamu. Ah. Harapanku semakin melambung tinggi. Seperti roket yang sedang meluncur memecah udara dan rintik hujan.
            Namun sesaat kemudian, roket itu terhempas ke tanah. Hancur. Seperti impianku tentangmu, kah.
                                                                                     Jember, 06 Desember 1976
                     
***         
Perempuan paruh baya itu tersenyum manis menatap buku tua usang. Debu debu menempel di permukaanya. Kumpulan cerpen terbitan tahun 80-an.
“Ada yang salah?.” Lelaki seusianya menghampiri sambil memeluknya dari belakang.
“Tidak. Hanya sedikit terhibur dengan kumpulan cerpen ini.” Jawabnya sambil menyodorkan buku yang dipeganginya tadi. Senyumnya kembali mengembang.
“Hunter itu, nama penamu ya?.” Hassa menaikkan satu alisnya. Kemudian, pandanganya mengarah pada buku yang perempuan itu sodorkan.
“Kamu baca?.” Arin mengangguk sambil tersenyum lagi.  
“Cie, ketahuan suka curi curi foto.” Arin tak bisa berhenti tersenyum sekarang, apalagi saat melihat wajah Hassa merah padam.
“Kata kata nya puitis banget bang. Kok sekarang kalau ketemu nggak gitu?.” Imbuhnya. Arin tak bisa berhenti menggoda Hassa yang kehilangan kata untuk bicara.
“Apasih. Itukan dulu.” Hassa menjawab dengan terbata, kemudian melangkah menjauh. Berusaha menghindari Arin yang makin terpingkal dengan tingkahnya. Namun tak lama kemudian, tawanya disusul dengan batuk yang tiada henti.
“Tuh, kena batunya kan godain suami sendiri.” Hassa menuntun Arin menuju kamar. Memberikanya obat untuk meredakan batuknya yang kian serak.
“Bentar ya, aku ambilin minum.” Hassa hendak pergi, namun langkahnya terhenti saat tangan Arin menahanya.
“Tidak usah. Jangan kemana mana. Disini saja, bersamaku.” Suara Arin melemah. Matanya yang tadi menggebu, sekarang menjadi sayu. Lemah, termakan penyakit usia. Hassa membalasnya dengan senyuman. Kemudian duduk dan memandangi wajah Arin yang tersenyum tipis. Senyum yang puluhan tahun silam membuatnya jatuh hati-sampai sekarang.
Tuhan telah memberikan Hassa kesempatan untuk mengenal Arin. Pertemuan kedua, yang menjadi awal kisah mereka hingga sekarang.



Komentar

Postingan Populer