Kau, aku…
Aku
menunggumu. Di bawah pohon sakura. Aku ingat betul dengan apa yang kamu
ucapkan kala itu. Dan sekarang aku di sini, dibawah pohon
yang telah mengikat banyak kenangan. Menjadi saksi bisu atas semua janji-janji
dan ucapan yang kau bisikkan indah di telingaku.
Terasa manis saat semua kenangan itu di putar kembali dalam
otakku. Kau tahu bagaimana aku mencintai dirimu. Dan kau tahu, bagaimana ku
simpan indah setiap detik yang kita lalui di dalam memori ku. Dan disinilah
aku. Tempat pertama yang selalu kita junjung saat kerinduan menyergap, namun
tak bisa untuk saling menatap. Bersama penantian yang perlahan menyiksaku.
Rintihan hujan. Aroma khas bunga Sakura yang tersapu angin.
Masih sama dengan masa-masa itu saat bersamamu. Menghabiskan waktu dengan
berbagai cerita ataupun canda tawa. Tapi dimana kau saat ini? Saat aku telah
kembali menjadi orang yang kau harapkan. Dengan sebuah cinta yang masih sama
dengan masa itu.
Tetesan hujan perlahan mengguyurku. aku hanya duduk merasakan
butir-butir air yang membasahi semua yang ku pakai. Aku masih ingin menunggumu.
Kau telah berjanji akan menemuiku hari ini. 1 Mei. Dan aku takkan pernah
lupa dengan hari itu. Ah, bodohnya aku mempercayai semua ucapanmu. Sedangkan kau
tidak di sini untuk memenuhi janji-janji itu. Ternyata kamu masih sama. Tidak
pernah bisa memegang ucapanmu. Tak bisa mempertahankan sesuatu yang telah
menjadi milikmu. Dan aku benar benar ingin pergi kali ini. Tapi bagaimana
dengan cerita yang belum terselesaikan?. Apakah kisah kita hanya akan menjadi
cerpen dan berakhir dengan penantianku yang sia-sia ini, atau kau datang dan
kita bisa meneruskan kisah sampai menjadi sebuah novel atau bahkan novel
bejilid.
Bahkan aku tak bisa menerka apa yang sedang kau fikirkan saat
ini. Dan kamu. Kenapa harus kamu. Padahal apa yang menarik darimu. Kenapa dengan
mudahnya aku mencintaimu. Dan sekarang, kau seperti tak peduli dengan apapun
yang akan terjadi padaku. Apa kau lupa. Aku menuggumu disini. Dan aku menggigil
saat bajuku yang basah diterpa oleh angin malam. Dimana kau. Apa kau benar
benar lupa atau bahkan tidak peduli. Ayolah!. Kakiku terasa begitu kaku
menuggumu berjam jam di tempat ini. Kita telah berjanji bukan. Tepat tanggal 2 Februari. Hari dimana awal kisah kita dimulai. Di bawah pohon Sakura ini.
lupakah kau. Atau, aku salah tanggal. Tidak!. Aku ingat betul dengan semua
kejadian itu. Film imajinasi yang kerap kali mencuat di dalam pikiranku.
Momen itu tepat pada hari dimana aku kehilangan sosok bibi
dalam hidupku. Saat itu aku sedang termenung sendiri. Lalu tanpa sengaja kau
datang. Kita belum saling mengenal. Tapi sikapmu yang sangat bersahabat,
membuatku nyaman dan terbuka. Lalu, dari itulah semua berawal. Sebuah awal dari
cerita kita.
Kita?. Masih bisakah ku sebut aku dan kamu dalam satu kata
ganti yaitu “KITA”.
Terkadang, aku sangat merindukan saat saat itu. Tapi, semua
kebahagiaan itu telah lenyap dari daftar memori yang ingin ku abadikan. Semua
tak lagi berarti. Jika kau tak datang malam ini.
Aku disini. Siap mengulang semua cerita kita. Mengisi
kekosongan yang ku tinggalkan. Melanjutkan kisah kita yang sempat terhenti.
Atau bahkan, kita akan mengubah jalan ceritanya. Apa yang kau suka. Kisah cinta
penuh keromantisan, atau malah petualangan. Sepertinya akan sangat menyenangkan.
Tapi, dimana kau sekarang.
Ah. Aku benar benar tidak tahan. Aku ingin pulang dan
merebahkan tubuhku. Tapi disisi lain, aku yakin kau akan datang.
Jam kota berdenting nyaring. Tepat jam sepuluh malam. Tepat
semua orang mulai hilir mudik pulang. Jam kerja selesai. Dan, apa jam-ku untuk
menunggu juga harus selesai?. Entahlah. Aku ragu, tapi
yakin. Takut, sekaligus lelah. Hanya gamang yang memenuhi sudut perasaanku.
Orang orang yang melintas kadang terhenti. Matanya
mengungkapkan tanya apakah aku baik baik saja. Aku mengangguk sambil
melontarkan senyum. Kau tahu, aku berpura pura bahagia. Tak ada yang boleh tau aku sebodoh ini
karenamu.
Namun, apa yang harus aku lakukan. Ketika keyakinan ini perlahan runtuh. Kau
bilang, jika kita di takdirkan bersama, kita akan kembali bersitatap di bawah
pohon ini. menyaksikan Sakura yang gugur. Menyulam hati yang retak sebab jarak
yang memisah. Mengganti kegamangan dengan kebersamaan yang takkan terganti
apapun, dan takkan
berakhir dengan alasan apapun.
Aku sakit, karena folder ingatanku hanya terisi penuh oleh
bayanganmu. Tapi dimana kau?. Sampai kapan aku harus disini. Untuk
menghubungimu saja aku tak bisa.
Dulu, kau yang putuskan. Tak usah memberi kabar. Untuk
mengukur sampai batas mana kesetiaan akan mengikat kita. Dan aku disini. Dengan
cinta yang sama. Tak berkurang sedikitpun. Tapi kau?.
Ah. Angin mana yang telah mengubah arah busurmu. Hingga
kakimu tak juga menginjakkan kaki di tanah ini. Tak cukupkah kau siksa aku
dengan bayanganmu.
Jalanan mulai sepi. Pedagang pinggiran siap mengemasi barang, bersiap pulang. aku menghela nafas. Penantian ini terasa semakin berat
Oh, baiklah. Aku menyerah. Aku takkan membiarkan hatiku
semakin tersiksa. Aku mencintaimu. Sangat. Tapi, bukan berarti harus ku
korbankan semua waktuku disini.
Seperti kalimat yang kau ucapkan. Jika kita di
takdirkan bersama, kau pasti akan datang. Kita akan bertemu lagi di tempat ini.
Dan, mungkin tidak untuk saat ini. Aku yakin kau akan datang. Sampai kakimu
tergerak untuk melangkah kemari. Hingga tak ada lagi yang kau rindukan selain
aku.
Dan aku akan selalu menunggu. Entah sampai kapan. Mungkin
sampai takdir menyisipkan kebosanan dalam anganku. Atau sampai titik jenuh
dalam pikiranku telah tiba pada batasnya.
|
Oleh : Sinta devi
listianah
|
Komentar
Posting Komentar