NIGHT TALK
Halo. Selamat malam.
Lelah? Istirahat saja. Tidak usah menjawabku. Cukup dengarkan. Bagaimana
kabarmu? Aku harap selalu baik. Sebagaimana kujalani kehidupanku dengan baik
pula. Apa kabar tanpaku? Aku harap juga baik. Kamu orang yang kuat, aku tahu.
Hanya karena kehilanganku, tidak akan membuatmu berubah kan? Walau banyak tahun
telah dilalui bersama, bukan berarti kita menjadi saling ketergantungan. Aneh.
Rasanya semua baik-baik saja. Ini bukan pertama kali kita bertengkar, tapi
seolah menjadi perseteruan akhir. Untuk kita yang sama sama egois, sepertinya
tahunan waktu adalah sesuatu yang mewah. Bertahan sejauh itu, rasanya tidak mungkin.
Tapi, disini kita sekarang. Setelah sejauh ini, wajar ego kita tidak bisa lagi
ditoleransi. Kata banyak orang, kehilangan itu menyakitkan. Aku bisa mantap
membenarkan sekarang. Dari waktu ke waktu, banyak pertanyaan bermunculan dalam
benakku. Kenapa secepat ini? Kenapa tidak besok, lusa, atau tahun depan
mungkin. Dari sekian peluang, kenapa harus kita yang gagal? Dan aku tetap tidak
menemukan jawaban. Kita terlalu dewasa untuk saling menyalahkan. Jika sampai disini akhirnya, anggap saja memang masa kita yang
telah habis. Bukankah, setiap kebersamaan akan berakhir dengan perpisahan?
Anggap saja sekarang adalah giliran kita. Walaupun sekali lagi, aku masih tidak
bisa percaya. Rasanya baru kemarin kita menertawakan hal yang sama. Nyatanya sekarang?
Hhhhh. Semua masih terasa palsu. Dari dua asing yang mengenal, menjadi dekat,
kemudian kembali asing. Aneh ya. Secepat itu fasenya. Lelah? Mungkin. Menyesal?
Tentu tidak. Setidaknya aku. Tahunan waktu bukan sesuatu yang sepele dan remeh.
Kau pun tahu itu. Terimakasih, telah membersamai sekian waktu dan momen yang
menyenangkan. Terimakasih, telah berulang kali memberi kesempatan untukku
menang. Terimakasih, telah memaklumi sekian khilaf yang kembali aku lakukan.
Jangan menangis. Jangan ingat aku sebagai sebuah kegagalan. Cukup ingat aku
sebagai pelajaran, dan kenangan yang manis mungkin. Jangan sakit. Aku tidak
lagi disana untuk merawat. Jangan terluka. Aku tidak lagi ada untuk membuat
tawa. Jangan pelupa. Aku tidak lagi ada untuk mengingatkan. Juga jangan kesepian. Aku tidak lagi bisa
menemani saat kau sendirian. Kau tau, aku tidak pandai perihal meminta maaf.
Kau juga tau, aku tidak pandai dalam memulai. Aku hanya pandai membual, seperti
sekarang. Jadi, esok, jika kembali bertemu, cobalah untuk menyapaku. Kita
adalah masa lalu yang manis kan. Bukankah setidaknya, ini permintaan yang
mudah? Kau dan tentang kita. Sekarang, biarlah aku yang kenang. Semoga, kelak
kau juga lakukan.
Lanjutkan..
BalasHapusTerimakasih :)
Hapus