Semangkuk Bakso MERDEKA


Aku punya cerita masa kecil tentang semangkuk bakso. Dahulu setiap kali ayah gajian, kami sekeluarga akan pergi di malam hari untuk “marung” semangkuk bakso. Sore hari, ibu akan kegirangan karena tidak perlu masak dan mempersiapkan makan malam. Sedang aku, sudah membayangkan betapa enaknya sebulat bakso yang terbuat dari daging yang empuk. Selepas sholat Magrib, ayah akan mengeluarkan motor kebanggaan berwarna merah hitam untuk membawa kami ke warung bakso “MERDEKA”, si bakso terenak di desa kami.
Selain karena rasa bakso yang tak terlupakan, kesana bersama keluarga menjadi sesuatu yang istimewa karena momen itu jarang sekali kami lakukan. Biasanya sepulang kerja, ayah akan berbaring melepas penat di malam hari. Sedang ibu juga sama. Selesai membereskan makan malam, ibu akan melipat baju kemudian beristirahat. Dan aku, akan mengerjakan pr kemudian menonton tv. Padahal pertemuan kami singkat, hanya malam sampai pagi sebelum semua kembali beraktivitas. Karenanya, “marung bakso” menjadi hal yang paling aku nanti sebulan selanjutnya.
Pernah suatu ketika, kami ingin sekali mengganti menu “gajian” dengan makan mie ayam. Sayangnya, ada saja yang membuat kami gagal melakukan hal itu, hingga kembali ke menu andalan yaitu bakso merdeka.
Bakso merdeka sendiri terkenal usai membuat terobosan baru dengan membuat pentol berisi daging yang masih sedikit menggupal kecil-kecil. Bentuknya seperti isian onde-onde, dan rasanya jauh lebih nikmat dibanding bakso lain yang hanya mencampurkan daging di adonan pembuat pentolnya. Beberapa hari setelah pembukaan saja, bakso ini langsung terkenal seantero desa. Bukan tersebat lewat grup whatsapp seperti sekarang, melainkan dari mulut ke mulut. Karenanya, kami harus datang seawal mungkin jika ingin marung disana. Ya. Akibat kepopuleranya, bakso ini selalu ramai akan pengunjung, sehingga kami harus mengantre bahkan untuk sekedar mencari tempat duduk.
Beberapa minggu selanjutnya, mereka mengeluarkan menu baru yang lebih spektakuler, yaitu bakso isi telur, bakso beranak dan sebagainya. Banyak sekali varianya, aku sampai bingung memilih. Tapi kata ayah, kita harus konsisten. Sehingga, kami tetap memilih menu yang sama untuk menu “gajian” kami.
Sebenarnya, gajian ayah sendiri tidak menetap. Sebagai buruh dan bukan pekerja kantoran atau guru seperti ibu, tidak sebulan sekali ayah gajian. Tapi selain menjadi buruh, ayah juga menanam Tembakau, Padi atau Jagung di sepetak lahan yang ia sewa. Karenanya, marung rutinan tetap dapat berjalan sesuai rencana, yaitu sebulan sekali. Sayangnya, hal ini tidak bias berlangsung lama. Memasuki jenjang SMP, aku diutus untuk menuntut ilmu di tempat yang lebih jauh dan mengharuskan tinggal di tempat, yaitu Presantren. Semenjak itu, rutinan marung hanya dilakukan ayah dan ibu, tanpaku. Atau mungkin, mereka sendiri lebih memilih untuk menyantap masakan ibu dengan menu lebih spesial? Ah. Aku sendiri tidak pernah bertanya.
Yang aku tau selanjutnya, ibu lebih suka membuat bakso versinya sendiri. Katanya, rasanya lebih enak, dan hasilnya pun lebih banyak. Setiap membuat bakso sendiri, ibu akan membagikan ke para tetangga, serta rumah kakek dan nenek. Selain rasa, aku setuju dengan ide ibu ini. Dengan membuat bakso sendiri, artinya aku bisa makan pentol sepuasnya dirumah, tanpa batas. Saking banyaknya pentol yang dihasilkan dari sekali produksi, kami bisa makan menu bakso sampai seminggu penuh. Takut bosan, akhirnya ibu tidak menyajikan menu bakso setiap hari. Kami akan memakan bakso sekenanya, semaunya.
Walau terkadang, aku tetap mencuri waktu untuk pergi marung ke bakso MERDEKA :)

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer